Lebih dari satu abad melayani air minum Kota Bogor
Buitenzorg adalah asal mula penamaan Kota Bogor. Menurut catatan sejarah, kota ini telah mempunyai sistem pelayanan air minum sejak tahun 1918 yang dibangun oleh pemerintah Belanda, dengan memanfaatkan sumber mata air Kota Batu sebesar 70 liter/detik yang berjarak 7 km dari Kota Bogor.
Nama perusahaan air minum pada waktu itu ialah Gemeentelijke Waterleiding te Buitenzorg. Sumber mata air Kota Batu ini merupakan cikal bakal keberadaan PDAM Kota Bogor, dan tahun 1918 dianggap sebagai dimulainya pelayanan air minum Kota Bogor.
Pelayanan air minum dimulai dari mata air Kota Batu (70 L/detik) oleh Gemeentelijke Waterleiding te Buitenzorg.
Tambahan debit dari sumber air Kebon Salada milik PAM DKI Jaya, masing-masing 30 L/detik.
Menerima hibah sumber air Bantarkambing dari Pemda DKI untuk mengatasi kekurangan air minum.
Bantuan Colombo Plan dari Australia meningkatkan debit dari 130 menjadi 410 L/detik, termasuk pembangunan Reservoir Cipaku (4.000 m³ dan 9.000 m³).
Menerima sumber air Tangkil dari Pemda DKI.
Koneksi pipa PAM DKI Jaya di Kebon Kecapi diputus — Bogor mandiri dengan kapasitas produksi sendiri.
PDAM Kota Bogor resmi didirikan melalui Peraturan Daerah Kota Bogor No. 5 Tahun 1977.
Kerja sama Twinning dengan NV. PWN (Belanda) dalam empat tahap untuk meningkatkan profesionalisme pelayanan.
Reservoir Cipaku, dibangun pada periode bantuan Colombo Plan.
Dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan kota, pada tahun 1966 mulai dirasakan kekurangan air minum. Survei Departemen PUTL memperkirakan air yang hilang lebih dari 50% karena sambungan meter dan pipa distribusi yang sudah tua. Pemerintah Indonesia kemudian mengusahakan bantuan luar negeri.
Bantuan dari Pemerintah Australia keseluruhannya sebesar US$ 2.456.449, termasuk 16.000 buah meter air dan tenaga konsultan supervisi dari Sydney. Pipa transmisi sepanjang 5.420 meter dipasang dari sumber air Tangkil ke Reservoir Cipaku, ditambah pipa distribusi di dalam Kota Bogor sepanjang 125.242 meter.